Darah Karbala di Tanah Nusantara : Merawat Duka, Menyalakan Api Perjuangan
Darah Karbala di Tanah Nusantara : Merawat Duka, Menyalakan Api Perjuangan
Setiap kali bulan Muharram tiba, langit sejarah Islam seakan berubah warna menjadi merah bata.
Di puncaknya, pada hari Asyura (10 Muharram), ingatan kita beralih ke sebuah padang gersang di Irak bernama Karbala.
Di sana, sebuah tragedi kemanusiaan terbesar terjadi: Sayyidina Husein, cucu tercinta Rasulullah SAW yang dijuluki Penghulu Pemuda Ahli Surga, dibantai secara keji bersama keluarga sucinya demi mempertahankan integritas Islam dari cengkeraman tiran zalim, Yazid bin Mu’awiyah.
Bagi setiap jiwa yang merindukan syafaat Nabi, Asyura bukanlah sekadar tanggal di atas kalender. Ia adalah ujian cinta.
Sebab, menyakiti Husein adalah menyakiti Rasulullah SAW, dan Allah SWT telah berfirman dengan sangat tegas:
”Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan di akhirat, dan menyediakan azab yang menghinakan bagi mereka.” (QS. Al-Ahzab: 57)
DNA Cinta Ahlul Bait dalam Kultur Nusantara
Jauh sebelum polarisasi politik Timur Tengah mereduksi makna Asyura, para penyebar Islam awal di bumi Nusantara—para Wali Songo dan para ulama arif—telah berhasil menanamkan rasa duka dan cinta kepada keluarga Nabi (Ahlul Bait) ke dalam relung kebudayaan kita.
Nusantara tidak pernah melupakan Karbala; kita merawatnya lewat tradisi yang kental:
Di Tanah Jawa (Bulan Suro): Muharram disebut Bulan Suro (Asyura), diisi dengan laku prihatin dan merenung. Di sini lahir Bubur Merah Putih (Bubur Suro). Warna Putih adalah simbol kesucian perjuangan Imam Husein, sedangkan warna Merah adalah perlambang darah suci beliau yang tumpah di Karbala. Ini adalah kompas kuliner yang mengajarkan anak cucu kita untuk membedakan yang hak dan yang bathil.
Di Bengkulu & Pariaman (Festival Tabot/Tabuik): Masyarakat secara kolosal mengarak replika peti jenazah Imam Husein. Ini adalah ekspresi duka cita teatrikal yang menegaskan bahwa luka Karbala juga merupakan luka masyarakat Sumatra.
Di Aceh (Bulan Asan-Usen): Serambi Mekah menyebut bulan ini dengan nama dua cucu Nabi (Hasan dan Husein).
Di Aceh, Asyura bukanlah hari raya untuk bersenang-senang, melainkan momentum khidmat untuk mengingat syahidnya sang imam melalui doa, zikir, dan pembacaan hikayat kepahlawanan.
Sintesis Spiritual: Antara Air Mata, Tawassul, dan Senyum Anak Yatim
Lalu, bagaimana dengan tradisi “Lebaran Anak Yatim” di sebagian daerah Indonesia?
Umat Islam di Nusantara mengambil jalan tengah yang cerdas dan indah.
Kegembiraan yang dihadirkan pada 10 Muharram bukanlah pesta pora kaum borjuis, melainkan kebahagiaan sosial untuk anak-anak yatim.
Kita bergerak menyantuni mereka karena mengingat bahwa pada hari Asyura yang kelam itu, putra-putri Imam Husein dipaksa menjadi yatim oleh kezaliman perang.
Inilah hakikat Tawassul melalui Amal Saleh. Kita mengusap kepala anak yatim sembari mengetuk pintu rahmat Allah, seolah berbisik: “Ya Allah, aku menyayangi anak-anak yatim ini karena cintaku kepada Nabi-Mu dan duka citaku atas cucu Nabi-Mu yang terzalimi.” Kita meminjam kemuliaan Rasulullah SAW dan Ahlul Bait agar doa-doa kita ikut terangkat ke langit.
Motivasi Asyura: “Setiap Hari adalah Asyura, Setiap Tanah adalah Karbala”
Slogan abadi ini adalah bahan bakar spiritual bagi kehidupan kita hari ini.
Karbala bukan sekadar peristiwa tahun 61 Hijriah yang sudah selesai.
Karbala adalah simbol abadi dari pertempuran antara keadilan melawan kezaliman.
Karbala adalah hari ini.
Kapan pun kita melihat hak orang lemah dirampas, korupsi merajalela, dan ketidakadilan dipertontonkan, di sanalah “Yazid-Yazid” modern sedang mencoba berkuasa.
Bumi tempat kita berpijak adalah medan juangnya.
Di mana pun kita berada, kita dituntut untuk menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (QS. Ali ‘Imran: 104) dan dilarang keras untuk condong pada kezaliman (QS. Hud: 113).
Di Barisan Mana Anda Berdiri?
Asyura menyadarkan kita bahwa hidup adalah pilihan barisan.
Apakah kita memilih menjadi penonton yang diam, atau menjadi pengikut barisan Yazid yang silau akan harta dan kekuasaan?
Ataukah kita memilih berdiri di Barisan Husein—barisan yang berani membela kebenaran, menyayangi yang lemah, dan menjaga kehormatan iman meski harus berjalan dalam kesepian dan perjuangan yang berat?
Mari jadikan momentum Asyura untuk melembutkan hati dengan air mata cinta kepada Rasulullah SAW dan keluarganya, sekaligus membakar jiwa kita dengan keberanian Imam Husein. Jadilah manusia yang merdeka, yang tidak sudi tunduk pada kezaliman, dan selalu menjadi pelindung bagi sesama.
Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa Ali Muhammad.
Tabik
M. Alatas



