Warta

Ngaji Logika Quraisy: Ketika Harta Menutup Mata dan Menuduh Nabi SAW Gila ( Studi Kritis QS. Al-Hijr Ayat 6-8 )

Sebagai santri, kita pasti sering mendengar kisah perjuangan Kanjeng Nabi Muhammad saw. saat menghadapi kerasnya hati kafir Quraisy di Mekah. Salah satu puncak kekurangajaran dan "korsleting" logika mereka diabadikan oleh Allah Swt. dalam Surat Al-Hijr ayat 6 sampai 8.

Ngaji Logika Quraisy: Ketika Harta Menutup Mata dan Menuduh Nabi SAW Gila

( Studi Kritis QS. Al-Hijr Ayat 6-8 )

M. Alatas

​        Sebagai santri, kita pasti sering mendengar kisah perjuangan Kanjeng Nabi Muhammad saw. saat menghadapi kerasnya hati kafir Quraisy di Mekah. Salah satu puncak kekurangajaran dan “korsleting” logika mereka diabadikan oleh Allah Swt. dalam Surat Al-Hijr ayat 6 sampai 8.

​        Mari kita telaah ayatnya secara runtut dan mendalam:

​Ayat 6:

وَقَالُوا۟ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِى نُزِّلَ عَلَيْهِ ٱلذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

Mereka berkata: ” Hai orang yang diturunkan Al-Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila .”

​Ayat 7:

لَّوْ مَا تَأْتِينَا بِٱلْمَلَٰٓئِكَةِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

“ Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar?”

​Ayat 8:

مَا نُنَزِّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ إِلَّا بِٱلْحَقِّ وَمَا كَانُوٓا۟ إِذًا مُّنظَرِينَ

“ Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab), dan tiadalah mereka ketika itu diberi penangguhan.”

 

1.   Aspek Balaghah: Jurus Asal Fitnah dan Kontradiksi Kaum Quraisy

 

​        Jika dibedah menggunakan ilmu Balaghah, ayat ke-6 membongkar betapa jahatnya lisan orang kafir Quraisy. Mereka memanggil Nabi dengan kalimat: “Wahai orang yang diturunkan Al-Qur’an kepadanya…” Ini bukan pujian, melainkan ejekan (istihza’) yang luar biasa sinis.

​        Ngerinya lagi, kalimat ejekan itu langsung mereka sambung dengan tuduhan: “Innika lamajnun” (Sesungguhnya kamu benar-benar gila). Saking inginnya memprovokasi masyarakat, mereka memakai dua huruf penegas (taukid) sekaligus, yaitu _Inna (sesungguhnya) dan huruf Lam al-Muzahlaqah yang berakar dari Lam Qasam (huruf sumpah).

 

Mereka membungkus sebuah fitnah konyol dengan struktur bahasa yang paling sakral.

​        Di sinilah letak rusaknya logika mereka. Di ayat lain, mereka menuduh Nabi sebagai tukang sihir yang pintar atau penyair yang hebat karena terpukau oleh keindahan bahasa Al-Qur’an. Tapi di ayat ini, mereka malah menuduh Nabi gila. Padahal secara nalar, orang gila itu bicaranya melantur tanpa arah, sedangkan penyair atau tukang sihir dituntut memiliki kecerdasan otak untuk memengaruhi orang lain.

 

Karena panik tidak bisa menandingi mukjizat Al-Qur’an, mereka mengalami kebutaan berpikir dan asal menuduh.

 

​2. Akar Masalah: Mindset Kapitalis yang Buta Nilai Iman

 

​        Mengapa mereka tega menuduh manusia paling jujur (Al-Amin) seperti Rasulullah saw. sebagai orang gila? Jawabannya karena otak mereka sudah lumpuh oleh penyakit wahn (mendewakan materi: harta, takhta, dan wanita).

​        Dalam catatan Sirah Nabawiyah, para pembesar Quraisy sempat menyogok Nabi lewat pamannya, Abu Thalib.

 

Mereka menawarkan harta melimpah agar menjadi yang terkaya, takhta tertinggi agar menjadi raja Mekah, dan wanita tercantik untuk dinikahi, asalkan Nabi berhenti berdakwah.

​        Namun, Rasulullah saw. menolak mentah-mentah dan memberikan jawaban legendarisnya:

 

” Wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku berhenti dakwah, aku tidak akan pernah berhenti sampai Allah memenangkannya atau aku mati di jalan ini.”

 

​        Bagi kaum Quraisy yang standar hidupnya cuma urusan uang dan kekuasaan, menolak kekayaan riil demi memperjuangkan agama adalah tindakan orang gila.

 

Karena tidak paham nilai iman, di ayat ke-7 mereka menantang:

 

” Kalau kamu benar, mana malaikatmu? Suruh turun ke sini!”

 

Mereka mengira malaikat adalah tontonan sirkus yang bisa dipanggil semau mereka demi memuaskan rasa penasaran fisik.

 

​3. Bedah Kritis Makna Kalimat “Maa Nunazzilul Malaikata Illa Bil-Haqq”

 

​        Sekarang, mari kita masuk ke bagian inti yang paling krusial di ayat ke-8. Apa sebetulnya arti dari kata ” Al-Haqq ” ketika Allah berfirman: “Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan Al-Haqq”?

 

Di sinilah Muallif (penulis) kitab Tafsir Al-Amtsal, Syaikh Nashir Makarim Syirazi, mengajak kita menguji beberapa pendapat ulama mufasir.

 

Dari empat pendapat yang beredar di dunia tafsir, beliau hanya menerima 2 pendapat dan menolak 2 pendapat lainnya:

 

​ Dua Pendapat yang Diterima oleh Tafsir Al-Amtsal :

​Sebagai Bukti Kebenaran & Mukjizat: Turunnya malaikat bukan untuk menyenangkan atau menuruti keisengan kaum kafir, melainkan murni diturunkan sebagai bukti konkret atas kebenaran Ilahi dan sebagai mukjizat yang sah untuk menegakkan agama Allah.

 

​Sebagai Hukum Azab Sapu Bersih: Makna Al-Haqq di sini adalah hukuman atau azab yang menghancurkan secara total. Artinya, malaikat diturunkan membawa keputusan final dari Allah: jika suatu kaum tetap menolak kebenaran setelah mukjizat datang, mereka akan disapu bersih tanpa sisa.

 

​ Dua Pendapat yang Ditolak oleh Tafsir Al-Amtsal:

 

​Syaikh Nashir Makarim Syirazi dengan tegas menolak pendapat mufasir lain yang mengartikan Al-Haqq di ayat ini sebagai ajal kematian atau tugas malaikat mencabut nyawa manusia. Menurut beliau, penafsiran tersebut keluar dari konteks ( siyaqul ayat ) yang sedang mendiskusikan masalah tantangan mukjizat, bukan tentang proses sakaratul maut manusia secara umum.

 

 

​4. Filosofi “Masa Penangguhan” (Al-Imhal) Sebagai Kasih Sayang Allah

​        Allah menutup ayat ke-8 dengan kalimat: “Wama kanu izan _munzharin_ ”

(Dan mereka tidak akan diberi penangguhan lagi).

​        Jika pendapat pertama dan kedua di atas digabungkan, maka ketetapan hukum Allah (Sunnatullah) berbunyi: Apabila suatu kaum meminta mukjizat fisik secara spesifik (seperti diturunkan malaikat), lalu Allah mengabulkannya namun mereka tetap membangkang, maka detik itu juga azab langsung turun dan mereka dibinasakan seketika. Tidak ada lagi waktu penundaan untuk bertobat.

​        Oleh karena itu, ketika Allah TIDAK menuruti permintaan mereka untuk menurunkan malaikat, itu sebenarnya adalah puncak kasih sayang (rahmah) dan sifat Maha Penyantun ( _Al-Halim_ ) Allah.

​        Allah sengaja menahan azab-Nya dan memberikan “Masa Penangguhan Berlapis” (Al-Imhal). Allah memberi mereka modal umur panjang—ada yang sampai 50, 60, atau 70 tahun—serta terus mengirimkan isyarat wahyu, supaya mereka punya waktu untuk berpikir jernih menggunakan akal sehatnya.

​        Allah Maha Tahu masa depan. Kalau orang-orang Quraisy itu langsung diazab mati hari itu, maka peradaban Mekah akan punah. Padahal di masa depan, dari keturunan para musuh Islam itu, lahir pahlawan-pahlawan besar.

 

Terbukti dalam sejarah: dari Abu Jahl lahir Sahabat Ikrimah; dari Walid bin Mughirah (yang mengejek Nabi gila) lahir sang pedang Allah yang terhunus, Khalid bin Walid. Allah menunda azab agar mereka yang dulunya fanatik buta, kelak bisa masuk Islam dengan kesadaran sendiri tanpa rasa takut.

 

​ Kesimpulan untuk Kehidupan Santri Zoom

 

​        Melalui sistematika Tafsir QS. Al-Hijr ayat 6-8 ini, kita bisa merenungkan dua hikmah besar:

​        Pembersihan Hati dari Penyakit Materialisme: Jangan sampai kita menilai kebenaran, ilmu, atau kemuliaan seseorang hanya dari kekayaan, penampilan, atau jabatannya. Jika otak kita hanya diisi oleh urusan materi, kita akan mudah meremehkan dan menuduh “gila” hal-hal kebaikan yang sifatnya rohani.

​        Memanfaatkan Masa Tenggang dari Allah: Umur, kesehatan, dan waktu luang yang kita miliki di pesantren saat ini adalah bentuk kasih sayang Allah ( _Al-Imhal_ ). Allah memberi kita waktu untuk memperbaiki diri. Jangan sampai kita baru menyesal dan mau bertobat ketika malaikat maut sudah datang di depan mata, karena kalau waktu itu sudah tiba, “masa penangguhan” kita sudah resmi berakhir.

 

Tabik…

​ Wallahu a’lam bish-shawab.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button