LP2NU PCNU Kota Bogor Rintis Gerakan Pertanian NU Berbasis Jejaring dan Kader Muda
Dewan Pembina LP2NU PCNU Kota Bogor, Ir. Ismatul Hakim, M.Sc., menyampaikan bahwa Nahdlatul Ulama memiliki kedekatan historis dengan masyarakat petani dan nelayan. Menurutnya, sejak awal NU tumbuh bersama masyarakat desa, pesantren, petani, nelayan, pedagang kecil, dan kelompok ekonomi rakyat.
LP2NU PCNU Kota Bogor Rintis Gerakan Pertanian NU Berbasis Jejaring dan Kader Muda
Kota Bogor – Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU) PCNU Kota Bogor mulai merintis penguatan gerakan pertanian NU berbasis jejaring, kader muda, dan ekonomi warga. Gagasan tersebut mengemuka dalam pembahasan LP2NU di Kantor PCNU Kota Bogor, Sabtu (13/6/2026).
Dewan Pembina LP2NU PCNU Kota Bogor, Ir. Ismatul Hakim, M.Sc., menyampaikan bahwa Nahdlatul Ulama memiliki kedekatan historis dengan masyarakat petani dan nelayan. Menurutnya, sejak awal NU tumbuh bersama masyarakat desa, pesantren, petani, nelayan, pedagang kecil, dan kelompok ekonomi rakyat.
“NU itu sejak awal dekat dengan kaum tani dan nelayan. Karena itu, semangat untuk memperjuangkan dan mengangkat nasib mereka perlu dihidupkan kembali, tentu dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan zaman,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dalam sejarah gerakan pertanian NU, perhatian terhadap kaum tani pernah termuat dalam Pertanu, sementara perhatian terhadap kaum nelayan juga memiliki ruang melalui Serikat Nelayan Muslim Indonesia atau Sernimi. Semangat dasarnya sama, yaitu memperkuat kemandirian ekonomi rakyat kecil.
Dalam forum tersebut, pengurus LP2NU Kota Bogor juga menekankan bahwa mengurus pertanian NU tidak harus selalu berarti menanam atau beternak sendiri. Banyak kader dan warga NU yang sebenarnya sudah memiliki usaha, ternak, produk, jaringan, maupun pengalaman di bidang pertanian, peternakan, pangan, dan UMKM.
Karena itu, LP2NU dapat mengambil peran dalam penguatan manajemen, pemasaran, jejaring, edukasi, dan kelembagaan. Dengan cara ini, LP2NU tidak mengambil alih peran petani, peternak, atau pelaku usaha rakyat, tetapi membantu agar potensi yang sudah ada dapat lebih tersambung dan berkembang.
Salah satu langkah awal yang dibahas adalah penguatan jejaring pemasaran produk pertanian dan peternakan dari warga atau jaringan terdekat. Program tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha, memperluas pasar, sekaligus membuka peluang pemasukan bagi organisasi.
Selain itu, LP2NU Kota Bogor juga memandang penting forum edukasi dan jejaring yang dapat mempertemukan kader NU, MWCNU, mahasiswa, dosen, praktisi, pengusaha, petani, peternak, dan jejaring Nahdliyin. Forum ini dapat menjadi ruang belajar, berbagi pengalaman, sekaligus membuka peluang magang, praktik lapang, kerja sama usaha, maupun pengembangan kapasitas kader.
Tsanie Ditya Kurnia, salah satu Pengurus LP2NU PCNU Kota Bogor sekaligus Mahasiswa Magister Kehutanan IPB University, menilai bahwa gerakan pertanian NU perlu dibangun dengan pendekatan kolaboratif.
Menurutnya, posisi Kota Bogor yang dekat dengan IPB University, mahasiswa, dosen, praktisi, serta berbagai komunitas menjadi modal penting bagi LP2NU untuk memperluas jejaring gerakan.
“LP2NU perlu menjadi penghubung antarjejaring. Banyak warga NU yang punya potensi di pertanian dan peternakan. Di sisi lain, Bogor punya kampus, mahasiswa, dosen, praktisi, dan pelaku usaha. Kalau ini bisa disambungkan, gerakan pertanian NU akan lebih hidup dan realistis untuk dijalankan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa mahasiswa dan kader muda NU perlu diposisikan sebagai mitra gerak, bukan sekadar tenaga bantu program. Kolaborasi dengan PMII IPB, KMNU IPB, dan komunitas mahasiswa lain dapat menjadi ruang belajar, kaderisasi, pengabdian, sekaligus penguatan jejaring pertanian NU.
“Mahasiswa bisa belajar dari lapangan, sementara LP2NU juga terbantu dari sisi gagasan, media, dokumentasi, promosi, dan jejaring kampus,” pungkasnya.
Melalui langkah tersebut, LP2NU PCNU Kota Bogor berharap gerakan pertanian NU tidak berhenti pada wacana. Gerakan ini diharapkan dapat menjadi jalan penguatan ekonomi warga, kader muda, petani, peternak, pelaku usaha rakyat, dan jamaah.






