Warta

Trilogi Eksistensi Manusia: Al-Qur’an sebagai Kompas, Angan-angan sebagai Tirai, dan Ajal sebagai Kepastian

Kesadaran manusia sering kali terjebak dalam sebuah paradoks ruang dan waktu. Di satu sisi, manusia adalah makhluk yang rapuh dan fana, namun di sisi lain, ia kerap berperilaku seolah-olah memiliki keabadian di dalam genggamannya. Manusia hidup dalam ketegangan eksistensial: diburu oleh waktu yang terus menyusut, namun secara psikologis gemar menangguhkan orientasi tertingginya demi pemuasan kedisinian.

Trilogi Eksistensi Manusia: Al-Qur’an sebagai Kompas, Angan-angan sebagai Tirai, dan Ajal sebagai Kepastian

Refleksi tafsir al-Amtsal QS al-Hijr 1-5

M.Alatas_

​          Kesadaran manusia sering kali terjebak dalam sebuah paradoks ruang dan waktu. Di satu sisi, manusia adalah makhluk yang rapuh dan fana, namun di sisi lain, ia kerap berperilaku seolah-olah memiliki keabadian di dalam genggamannya. Manusia hidup dalam ketegangan eksistensial: diburu oleh waktu yang terus menyusut, namun secara psikologis gemar menangguhkan orientasi tertingginya demi pemuasan kedisinian.

​          Sejak awal penciptaan, eksistensi manusia bergerak di antara tiga kutub ontologis yang saling memengaruhi: petunjuk yang menuntun jalannya, ilusi yang membuai kesadarannya, dan waktu yang mengepung ruang geraknya.

​          Dalam pembukaan Surah Al-Hijr ayat 1 sampai 5, Al-Qur’an membedah ketiga dimensi ini melalui struktur narasi yang sangat dramatis. Untaian ayat ini bukan sekadar rekaman sejarah atau kronik tentang kaum masa lalu yang binasa. Ia merupakan sebuah cetak biru eksistensial yang memuat hukum universal (Sunnatullah)—sebuah analisis mendalam mengenai anatomi kesadaran manusia, baik sebagai subjek individu maupun sebagai entitas kolektif dalam sebuah peradaban.

​I. Al-Qur’an sebagai Kompas: Penunjuk Jalan di Tengah Badai Relativitas

​          Secara epistemologis, manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Namun, ketika ia dihadapkan pada dunia yang dipenuhi oleh relativitas moral, benturan opini, dan banjir informasi, pencarian tersebut sering kali berujung pada disorientasi akut. Manusia membutuhkan sebuah jangkar kebenaran objektif yang tidak ikut bergeser saat zaman berubah. Di sinilah Al-Qur’an memproklamasikan dirinya sebagai kompas utama eksistensi melalui ayat pertama: “Alif Laam Raa. Itulah (Tilka) ayat-ayat Al-Kitab dan Qur’an yang jelas (Mubin).”

​          Terdapat rahasia sastra (balaghah) yang sangat memikat pada awal ayat ini. Al-Qur’an menggunakan kata tunjuk jauh Tilka (Itu), yang dalam struktur bahasa Arab umumnya digunakan untuk menegaskan jarak spasial. Penggunaan terma ini dalam konteks wahyu tidak merujuk pada jarak fisik, melainkan jarak makam dan derajat (Uluwul Manzilah). Allah mengisyaratkan bahwa teks yang dihadapi manusia memiliki otoritas spiritual yang transenden, suci, dan terbebas dari relativisme pikiran manusia yang labil.

​          Melalui ketersambungan makna, ayat pertama ini membagi Al-Qur’an ke dalam dua lapis eksistensi yang saling melengkapi. Pertama, sebagai Al-Kitab, yaitu hakikat wahyu pada level puncaknya yang kokoh, tunggal, dan metafisik di alam malakut atau Ummul Kitab. Kedua, sebagai Qur’an Mubin, yaitu manifestasi wahyu yang telah ditunju-turunkan derajat wujudnya agar membumi, dapat diakses oleh rasio, dan memancarkan kejelasan yang benderang untuk mengikis kebingungan manusia.

​          Penulis Tafsir Al-Amtsal menolak keras argumen sebagian mufasir yang mereduksi kata Al-Kitab di sini sebagai Kitab Taurat atau Injil. Mengingat Surah Al-Hijr diturunkan di Makkah untuk menghadapi kaum musyrik Quraisy, ayat ini merupakan sebuah maklumat mutlak: Al-Qur’an adalah satu-satunya kompas peradaban yang otoritatif, kokoh, dan bertindak sebagai hakim tunggal yang memisahkan antara kebenaran hakiki dan prasangka manusia yang fana.

​II. Angan-angan sebagai Tirai: Ilusi Pembius yang Menurunkan Derajat Manusia

​          Ketika manusia menolak kompas objektif tersebut, ruang kesadarannya tidak akan pernah kosong. Secara otomatis, ia akan memasang sebuah “tirai ilusi” dalam pikirannya sendiri. Pola ini digambarkan dengan sangat tajam pada ayat berikutnya:

 

“Boleh jadi (Rubama) orang-orang kafir itu menginginkan, sekiranya mereka dahulu menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (Dzarhum) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan…”

 

Melihat penolakan yang dilakukan manusia secara sadar, Allah merespons mereka dengan sebuah kalimat pembiaran yang bernada sangat dingin dan transenden: Dzarhum (Biarkan mereka!). Dalam konseptualisasi spiritual, ini disebut sebagai Khidlan atau penelantaran ilahi.

Ini merupakan bentuk hukuman tertinggi di mana Tuhan berhenti menegur ego manusia; sebuah fase di mana manusia dibiarkan berjalan menuju kebinasaannya sendiri akibat pilihan bebasnya yang keliru.

​          Ketika tirai penelantaran ini telah menutup kesadaran, maka secara eksistensial derajat kemanusiaan seseorang akan mengalami degradasi yang sangat tajam. Orientasi hidup manusia menyusut secara radikal hanya pada level biologis dasar, yaitu sekadar makan, minum, dan memuaskan kesenangan materi (ya’kulu wa yatamatta’u), sehingga mereka kehilangan sensitivitas terhadap dimensi spiritual. Jiwa mereka dibius oleh panjang angan-angan kosong, melahirkan halusinasi bahwa dunia ini tidak memiliki batas akhir dan membuat mereka lupa akan keniscayaan kematian.

​          Namun, Al-Qur’an segera merobek tirai ilusi tersebut dengan membocorkan benturan psikologis yang akan terjadi di alam pascakematian. Menggunakan kata Rubama (Boleh jadi)—yang dalam konteks ini mengandung makna penegasan yang intens—Allah menggambarkan sebuah penyesalan yang sangat mendalam ketika realitas akhirat tersingkap secara mutlak.

​          Sebuah riwayat jika kita merujuk pada Tafsir Al-Amtsal melukiskan dialektika akhirat tersebut secara dramatis. Kelalk, berdasarkan keadilan dan rahmat-Nya, Allah mengeluarkan orang-orang beriman yang berdosa dari neraka Jahannam setelah mereka melampaui proses pembersihan spiritual. Ketika menyaksikan gelombang umat Muslim yang berdosa itu dievakuasi menuju surga karena modal iman dan syafaat, orang-orang kafir yang tertinggal dalam siksaan abadi mengalami guncangan psikologis yang hebat. Di titik itulah mereka meratap histeris, membayangkan andai saja dulu di dunia mereka memiliki jiwa yang pasrah dan berserah diri sebagai muslim, niscaya mereka akan ikut keluar dari kurungan siksa hari itu. Sebuah hasrat spiritual yang sayangnya telah kehilangan ruang aktualitasnya.

 

​III. Sekat Etis Keinginan: Angan-angan Boleh, tetapi Jangan Berlebihan

​          Melalui potret tragis orang-orang yang terbius oleh ilusi duniawi, Al-Qur’an pada hakikatnya tidak sedang melarang manusia untuk memiliki harapan atau keinginan. Harapan adalah penggerak eksistensi. Tanpa adanya ekspektasi terhadap masa depan, roda peradaban tidak akan pernah bergerak, dan manusia akan kehilangan motivasi untuk berkreasi, menuntut ilmu, maupun membangun kehidupan.

​          Namun, Islam memberikan batasan etis yang sangat tegas untuk membedakan antara dinamika keinginan yang menghidupkan jiwa dan angan-angan yang mematikan akal. Batasan pertama disebut sebagai Raja’ atau harapan yang sehat. Ini merupakan cita-cita tinggi yang melahirkan optimisme, ditopang oleh usaha yang nyata di dunia, dan selalu menempatkan Al-Qur’an sebagai kompas utamanya dengan target menjadikan dunia sebagai ruang kultivasi bagi kebahagiaan ukhrawi.

​          Sebaliknya, batasan yang destruktif disebut sebagai Al-Amal, yaitu angan-angan yang berlebihan. Ini merupakan ekspektasi liar yang menuntut hasil tanpa mau berproses, melahirkan keserakahan materialistik, membuat manusia gemar menunda pertobatan, dan menumbuhkan delusi seolah-olah waktu hidup bersifat tak terbatas. Prinsip filosofisnya sangat mendasar: berangan-anganlah sewajarnya untuk menata kehidupan di dunia, tetapi jangan pernah berlebihan hingga kehilangan kesadaran bahwa waktu eksistensi kita di dunia sedang berjalan mundur.

 

​IV. Ajal sebagai Kepastian: Hitung Mundur Kosmis yang Tak Berkompromi

 

Pembiaran yang dialami oleh manusia-manusia yang terbius angan-angan sering kali menimbulkan pertanyaan filosofis mengenai keadilan. Mengapa kezaliman dan kesombongan seolah dibiarkan melenggang tanpa konsekuensi langsung di dunia? Al-Qur’an menjawabnya melalui dimensi waktu pada ayat 4 dan 5: “Dan Kami tidak membinasakan suatu negeri pun, melainkan sudah ada ketentuan yang ditetapkan baginya (Kitab Ma’lum). Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat menundanya.” Allah tidak pernah alpa; Dia sedang memberlakukan sistem Kitab Ma’lum—sebuah jadwal hitung mundur (countdown) kosmis yang bergerak secara mekanis dan presisi.

​Para pemikir besar Islam memberikan analisis yang sangat komprehensif mengenai bagaimana batas waktu ini mengepung kehidupan. Allamah Tabataba’i dalam Tafsir Al-Mizan memberikan catatan sosiologis yang tajam dengan menyoroti terma Ummat (komunitas/bangsa). Beliau menjelaskan bahwa batas usia tidak hanya berlaku bagi individu secara biologis, melainkan sebuah peradaban atau sistem masyarakat juga memiliki umur sosialnya sendiri. Ketika sebuah masyarakat secara kolektif menimbun kezaliman dan merusak moralitas, maka struktur sosial mereka secara matematis sedang bergerak menuju kehancuran sejarahnya.

​          Di sisi lain, Ayatullah Makarem Shirazi dalam Tafsir Al-Amtsal menekankan bahwa keberadaan Kitab Ma’lum adalah manifestasi keadilan dan kasih sayang Allah. Dia memberikan masa penangguhan (respite) agar manusia memiliki ruang terakhir untuk mengevaluasi diri dan bertobat sebelum hukum kausalitas bekerja membinasakan mereka.

​          Melengkapi premis tersebut, Sayyid Kamal Al-Haydari membagi ajal ke dalam dua hierarki metafisik. Pilihan moral manusia di dunia pada mulanya memengaruhi catatan takdir yang bersifat dinamis (Ajal Muallaq). Namun, ketika ambang batas kejahatan telah terlampaui tanpa adanya rekonsiliasi spiritual, takdir kondisional tersebut akan dikunci menjadi takdir kehancuran yang absolut (Ajal Musamma) di dalam Ummul Kitab. Ketika pelatuk ajal takwini itu ditarik dan jam pasir kehidupan menyentuh angka nol, ketetapan Allah akan langsung mengeksekusi ruang eksistensi manusia tanpa ada ruang negosiasi. Ia tidak dapat dipercepat karena ketidaksabaran, dan tidak dapat ditunda sedetik pun meskipun manusia meratap memohon penangguhan.

 

​Epilog: Membaca Jam Pasir Diri

​          Lima ayat pertama Surah Al-Hijr ini bertindak sebagai cermin filosofis yang sangat jernih bagi kehidupan manusia. Kelimpahan materi, aktualitas diri, dan kesehatan yang dinikmati manusia hari ini sering kali bukanlah indikator kemuliaan, melainkan sebuah masa penangguhan sebelum garis batas waktu itu tiba.

​          Sebagai kesimpulan yang mengunci seluruh trilogi eksistensi ini, wasiat dari Amirul Mukminin, Imam Ali bin Abi Thalib \alpha, merangkum secara utuh bahaya dari tirai ilusi yang menutupi mata hati manusia:

​إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ اثْنَتَانِ: اتِّبَاعُ الْهَوَى وَطُولُ الْأَمَلِ، فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ

​“Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpa kalian ada dua perkara: mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan kalian dari kebenaran. Sedangkan panjang angan-angan, ia akan membuat kalian melupakan akhirat.”

 

​          Waktu eksistensi di dunia terlalu singkat untuk dihabiskan dalam kepalsuan angan-angan. Pilihan kini sepenuhnya berada pada kesadaran masing-masing subjek: apakah manusia akan melangkah dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas penuntun jalannya, atau memilih tetap terbius oleh angan-angan sebagai tirai yang melalaikan, sampai akhirnya ia dibangunkan secara paksa oleh datangnya ajal sebagai kepastian dalam ruang penyesalan yang telah kehilangan aktualitasnya.

Tabik

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button