Warta

Menyambut Ramadhan 1447 H: Tamu Agung yang Membawa Cahaya Keberkahan

Ramadhan bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender Hijriah, melainkan tamu agung dari Allah Swt. Ia datang membawa ampunan, rahmat, dan peluang besar untuk memperbaiki diri. Sebagaimana disampaikan Rasulullah Saw.: قَدْ أَتَاكُمْ رَمَضَانُ، سَيِّدُ الشُّهُورِ، فَمَرْحَبًا بِهِ وَأَهْلًا “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, penghulu seluruh bulan. Maka sambutlah ia dengan ucapan selamat datang dan penuh kegembiraan.” Dalam konteks ini, Ketua JATMAN Kota Bogor Ahmad Tavip Budiman menegaskan bahwa menyambut Ramadhan adalah bagian dari ekspresi iman.  “Ramadhan adalah sayyidus syuhūr, penghulu seluruh bulan. Maka menyambutnya dengan rasa bahagia bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari iman yang hidup dalam hati seorang mukmin,” ujarnya. Kegembiraan itu bukan hanya karena datangnya waktu berpuasa, melainkan karena terbukanya pintu-pintu rahmat Allah bagi seluruh hamba-Nya.  Ramadhan dan Keistimewaannya Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keutamaan. Ia adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Swt.: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Menyambut Ramadhan 1447 H: Tamu Agung yang Membawa Cahaya Keberkahan

Oleh: Ahmad Tavip Budiman, S.Ag., M.Si

(Mudir Idaroh Syu’biyyah JATMAN Kota Bogor 2025–2030)

Bulan Ramadhan 1447 Hijriah tinggal menunggu hitungan hari. Bulan yang selalu hadir membawa cahaya, harapan, dan keberkahan bagi siapa pun yang menyambutnya dengan iman dan keikhlasan.

Ramadhan bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender Hijriah, melainkan tamu agung dari Allah Swt. Ia datang membawa ampunan, rahmat, dan peluang besar untuk memperbaiki diri.

Sebagaimana disampaikan Rasulullah Saw.:

قَدْ أَتَاكُمْ رَمَضَانُ، سَيِّدُ الشُّهُورِ، فَمَرْحَبًا بِهِ وَأَهْلًا

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, penghulu seluruh bulan. Maka sambutlah ia dengan ucapan selamat datang dan penuh kegembiraan.”

Dalam konteks ini, Ketua JATMAN Kota Bogor Ahmad Tavip Budiman menegaskan bahwa menyambut Ramadhan adalah bagian dari ekspresi iman.

“Ramadhan adalah sayyidus syuhūr, penghulu seluruh bulan. Maka menyambutnya dengan rasa bahagia bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari iman yang hidup dalam hati seorang mukmin,” ujarnya.

Kegembiraan itu bukan hanya karena datangnya waktu berpuasa, melainkan karena terbukanya pintu-pintu rahmat Allah bagi seluruh hamba-Nya.

Ramadhan dan Keistimewaannya

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keutamaan. Ia adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Swt.:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Menurut Tavip, Al-Qur’an menjadi pusat spiritualitas Ramadhan.

“Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Maka jangan sampai kita melewatinya tanpa memperbanyak tilawah, tadabbur, dan menghidupkan nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Ramadhan juga menjadi bulan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

“Di bulan ini Allah menghadiahkan satu malam yang nilainya melampaui usia panjang manusia. Maka orang beriman tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut,” tambahnya.

Puasa: Inti dan Ruh Ramadhan

Keistimewaan terbesar Ramadhan adalah diwajibkannya ibadah puasa, sebagaimana firman Allah Swt.:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ahmad Tavip menekankan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus.

“Puasa adalah ibadah yang melatih ketakwaan. Ia bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari segala hal yang mengotori hati dan merusak akhlak,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa puasa merupakan ibadah universal yang telah dikenal umat-umat terdahulu.

“Puasa adalah jalan spiritual lintas zaman. Namun Islam menyempurnakannya dengan tujuan tertinggi: membentuk insan bertakwa,” jelasnya.

Keistimewaan Puasa dalam Islam

Puasa memiliki kedudukan istimewa, sebagaimana dalam Hadis Qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

 

“Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Tavip menilai puasa sebagai ibadah paling jujur.

“Puasa adalah ibadah yang paling rahasia. Tidak ada yang benar-benar mengetahui keikhlasan seseorang kecuali Allah. Karena itu pahalanya langsung dijamin oleh-Nya,” ungkapnya.

Puasa juga melatih kesabaran, pengendalian diri, serta empati terhadap sesama.

mentum Transformasi Diri

Ramadhan 1447 H adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan terulang bagi sebagian dari kita. Maka sungguh beruntung orang-orang yang menjadikannya sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

“Ramadhan adalah madrasah ruhani. Di bulan ini kita ditempa untuk naik kelas dalam iman, memperindah akhlak, dan membersihkan hati dari penyakit batin,” katanya.

Ia pun mengajak umat Islam, khususnya warga thariqah dan Nahdliyyin di Kota Bogor, untuk menyambut Ramadhan dengan tekad kuat.

“Mari kita sambut Ramadhan dengan iman, kegembiraan, dan kesungguhan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang diampuni, dirahmati, dan dibebaskan dari api neraka,” pungkasnya.

Marhaban yā Ramadhān, ahlan wa sahlan bi qudūmik.

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button