Temu dan Pamit Santri Al-Hamidiyah, Prof. Dr. KH. Oman Fathurahman Tekankan Istiqamah Menuntut Ilmu
Dalam sambutannya, Kepala Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Prof. Dr. KH Oman Fathurahman, M. Hum menyampaikan pesan mendalam kepada para santri agar tetap istiqamah dalam menuntut ilmu. “Saya menganggap kalian sebagai anak-anak saya. Acara ini adalah akhir, tetapi juga menjadi awal untuk sesuatu yang lain. Ini akhir studi kalian, tetapi awal untuk menempuh jalan berikutnya,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya meluruskan niat dalam menuntut ilmu serta menjadikan belajar sebagai proses sepanjang hayat.
Temu dan Pamit Santri Al-Hamidiyah, Prof. Dr. KH. Oman Fathurahman Tekankan Istiqamah Menuntut Ilmu
Depok – Pesantren Al-Hamidiyah menggelar kegiatan Temu dan Pamit santri kelas akhir bersama pengasuh, asatidz, dan pembina asrama di Masjid Al-Hamidiyah, Jumat (17/4/2026).
Kegiatan ini menjadi momen haru sekaligus penuh makna bagi para santri yang telah menyelesaikan masa belajar dan bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Dalam sambutannya, Kepala Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Prof. Dr. KH Oman Fathurahman, M. Hum menyampaikan pesan mendalam kepada para santri agar tetap istiqamah dalam menuntut ilmu.
“Saya menganggap kalian sebagai anak-anak saya. Acara ini adalah akhir, tetapi juga menjadi awal untuk sesuatu yang lain. Ini akhir studi kalian, tetapi awal untuk menempuh jalan berikutnya,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya meluruskan niat dalam menuntut ilmu serta menjadikan belajar sebagai proses sepanjang hayat.
“Luruskan niat. Niatkan setiap langkah untuk thalabul ilmi. Semangat belajar itu dari buaian hingga liang lahat. Jangan sampai umur bertambah, tetapi ilmu justru berkurang,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keberkahan ilmu melalui tiga hal utama, yaitu memperbanyak muzakarah (diskusi dan pengulangan pelajaran), berkhidmat kepada guru dan orang tua, serta menjaga ridha para guru.
“Ilmu akan tetap terjaga dengan muzakarah, keberkahannya dengan khidmah kepada guru dan orang tua, dan manfaatnya dengan ridha para masyayikh,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar para santri tidak kembali pada zona nyaman setelah lulus dari pesantren.
“Jangan sampai pulang ke rumah justru kembali ke kondisi yang tidak baik. Jaga jati diri sebagai santri,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, KH Oman juga menitipkan amalan sederhana namun istiqamah, seperti shalat dhuha, membaca surat Al-Ikhlas, serta menjaga wudhu secara terus-menerus.
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang rutin dilakukan meskipun sedikit,” ujarnya.
Kiai Oman juga mengijazahkan amalan dari guru pertamanya yang juga ayahnya kepada santriwan dan santriwati untuk diamalkan. membacakan dan diikuti oleh semua yang hadir. Ajaztukum.
Sementara itu, santri putri kelas 12, Halimatus Sa’diyah, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas bimbingan para guru selama menempuh pendidikan di pesantren.
“Alhamdulillah, selama enam tahun sejak MTs, kami mendapatkan banyak pembelajaran dari guru dan pembina yang dengan sabar membimbing kami. Semoga silaturahmi ini tetap terjaga,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan oleh ketua angkatan santri putra, Rizki Aldiansyah, yang mewakili angkatan ke-26 DC.
“Tidak terasa waktu begitu cepat. Kami memohon maaf kepada kiai dan ustadz atas segala kesalahan, serta berterima kasih atas bimbingan yang telah diberikan. Kami juga memohon doa agar dapat melanjutkan pendidikan ke universitas yang kami cita-citakan,” ujarnya.
Kepada Divisi Kepesantrenan, Ustadz Romansyah, Lc, M. Pd turut memberikan pesan agar para santri tetap menjaga identitas sebagai santri di tengah masyarakat.
“Jaga identitas santri, seperti menjaga shalat berjamaah di masjid dan tutur kata yang baik. Itu adalah keberkahan yang harus dipertahankan,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar para santri tetap menjalin hubungan dengan pesantren dan terus menambah ilmu.
“Setelah pergi, jangan lupa kembali. Terus isi diri dengan ilmu yang bermanfaat agar memudahkan langkah dalam meraih cita-cita,” tambahnya.
Kegiatan Temu dan Pamit ini diharapkan menjadi bekal spiritual dan motivasi bagi para santri dalam melanjutkan perjalanan pendidikan serta mengamalkan ilmu di tengah masyarakat.
Pewarta: Abdul Mun’im Hasan




